Iklan

Jumat, 28 April 2017

PSIKOLOGI PADA MASA MENSTRUASI DAN PERKAWINAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Menstruasi adalah perdarahan dari uterus karena perubahan hormonal yang teratur atau berdaur teratur, kira-kira empat minggu sekali.
Menstruasi merupakan pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan yang terjadi secara berulang setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang pertama atau menarche paling sering terjadi pada usia 11 tahun, tetapi bisa juga terjadi pada usia 8 tahun atau 16 tahun tergantung factor-faktor yang mempengarui kedewasaan atau perkembangan hormone pada gadis itu sendiri.
Secara berkala, perempuan normal akan mengalami menstruasi secara teratur. Menstruasi merupakan peluruhan dinding rahim yang terdiri atas darah dan jaringan tubuh. Proses ini berlangsung secara rutin setiap bulan pada setiap perempuan normal. Umumnya tidak ada keluhan berarti brkaitan dengan kedatangannya kecuali sedikit mulas atau ketidakstabilan emosi. Tetapi ada pula perempuan yang memiliki keluhan lebih mendalam karena proses menstruasinya sudah dirasakan bermasalah baik siklus, jumlah darah, atau nyeri yang dialami.
Perkawinan adalah suatu penyatuan jiwa dan raga dua manusia berlawanan jenis dalam suatu ikatan yang suci dan mulia di bawah lindungan hukum dan Tuhan yang Maha Esa.

B.  Rumusan Masalah
1.    Apa Pengertian Menstruasi ?
2.     Apa saja gangguan saat menstruasi  ?
3.    Bagaimanakah gejala-gejala gangguan psikolgis pada masa menstruasi ?
4.    Bagaimanakah cara mengatasi gangguan psikologis pada masa menstruasi ?
5.    Apa yang dimaksud dengan perkawinan ?
6.    Apa saja Gangguan Psikologi Pada Masa Perkawinan ?
7.    Apa saja Kesulitan Dalam Penyesuaian Perkawinan ?
8.    Apa saja Cara Mengatasi Gangguan Psikologi Perkawinan ?

C.    Tujuan
1.    Untuk mengetahui Pengertian Menstruasi ?
2.    Untuk mengetahui apa saja gejala-gejala gangguan psikolgis pada masa menstruasi ?
3.    Untuk mengetahui cara mengatasi gangguan psikologis pada masa menstruasi ?
4.    Untuk mengetahui yang dimaksud dengan perkawinan ?
5.    Untuk mengetahui apa saja Gangguan Psikologi Pada Masa Perkawinan ?
6.    Untuk mengetahui apa saja Kesulitan Dalam Penyesuaian Perkawinan ?
7.    Untuk mengetahui  Cara Mengatasi Gangguan Psikologi Perkawinan ? 


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian
Gangguan menstruasi dan siklusnya dalam masa reproduksi dapat digolongkan berdasarkan kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada menstruasi (hipermenore atau menoragia dan hipomenore), kelainan siklus (polimenore, oligomenore, amenore), perdaraha di luar menstruasi (metroragia), gangguan lain yang  ada hubungan dengan menstruasi (ketegangan pramenstruasi premenstruasi tension, mastodinia, rasa nyeri pada ovulasi mittelschmerz, dan dismenore).
1.    Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada menstruasi.
a.     Hipermenore atau menoragia
Hipermenore adalah perdarahan menstruasi lebih banyak dari normal (lebih dari 80 ml) atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari), kadang disertai dengan bekuan darah sewaktu menstruasi.
b.      Hipomenore
Hipermenore adalah perdarahan menstruasi yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari biasa.
2.    Kelainan Siklus Menstruasi
a.       Polimenore atau epimenoragia
Siklus menstruasi yang lebih memendek dari biasa yaitu < 21 hari, sedangkan jumlah pendarahan relatif sama atau lebih banyak dari biasanya.
b.       Oligomenore
Oligomenore adalah siklus menstruasi memanjang > 35 hari sedangkan jumlah pendarahan tetap sama.
c.       Amenore
Amenore adalah keadaan tidak datang menstruasi selama tiga bulan berturut-turut.
3.      Perdarahan di luar menstruasi
a.  Metroragia
Yaitu perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid.

B.  Gejala-gejala gangguan psikologis terhadap menstruasi
          1.      Komplek Kastrasi (Trauma Genetalia) Muncul gambaran fantasi yang aneh-aneh dan
                menimbulkan kecemasan-kecemasan dan perasaan bersalah/berdosa.
         2.      Teori Cloaca Munculnya anggapan keliru dimana segala sesuatu yang keluar dari rongga tubuh
               itu adalah kotor, najis, menjijikkan, serta merupakan tanda noda yang tidak suci.
         3.      Fobia Ketakutan yang tidak beralasan
         4.      Hypochondria Rasa tertekan, ketakutan dan fantasi sakit (paranoid)
         5.      Paranoid 
         6.      Psychogene Aminorhe Berhentinya menstruasi sebelum waktunya, penolakan terhadap
                menstruasi.

C.  Cara mengatasi gangguan psikologis
1.    Cara mengatasi gangguan-gangguan psikologi pada masa menstruasi adalah dengan melakukan konsultasi atau konsling pada tenaga kesehatan seperti bidan, dokter dan sebagainya dan menjadikan tenaga kesehatan tersebut sebagai konselor. Peran atau tugas sebagai konselor ini yaitus ebagai berikut:
a.    Memberi penjelasan kepada klien, bahwa proses menstruasi merupakan suatu proses fisiologi atau normal yang pasti akan terjadi dan akan dialami oleh setiap wanita yang subur
b.    Memberi informasi-informasi positif yang berguna mengenai menstruasi agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap proses menstruasi tersebut.
2.    Memberikan saran untuk mengurangi ketegangan dan rasa nyeri proses menstruasi berlangsung, seperti istirahat yang cukup, perbanyak minum air putih dan melakukan kompres air hangat pada bagian perut.


D.  Perkawinan
Perkawinan adalah suatu penyatuan jiwa dan raga dua manusia berlawanan jenis dalam suatu ikatan yang suci dan mulia di bawah lindungan hukum dan Tuhan Yang Maha Esa. Terdapat beberapa Macam perkawinan, yaitu:
a.       Perkawinan Pologami.
Suatu perkawinan dimana seorang suami mempunyai lebih dari satu isteri.ada banyak alasan pria menjalankan bentuk perkawinan ini,antara lain anak,jenis kelamin anak,ekonomis,status sosial dan lain-lain.
b.      Perkawinan Eugenis
Suatu bentuk perkawinan untuk memperbaiki/memuliakan ras.Saat Perang Dunia II Hitler memerintahkan penculikan terhadap gadis-gadis cantik dan pintar dari negara yang didudukinya.
1.    Penyesuain Dalam Perkawinan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Seksual.
a.    Perilaku terhadap Seks.
     Sikap terhadap seks sangat dipengaruhi oleh cara laki-laki dan perempuan menerima informasi seks selama masa anak-anak dan remaja.Sekali perilaku yang tidak menyenangkan dikembangkan maka akan sulit sekali untuk dihilangkan.
b.    Pengalaman Seks Masa Lalu
    Cara orang dewasa dan temen sebaya bereaksi terhadap masturbasi,petting dan hubungan suami isteri sebelum menikah,ketika mereka masih muda dan cara laki-laki dan perempuan merasakan itu sangat mempengaruhi perilaku mereka terhadap seks.Apabila pengalaman awal seorang perempuan tentang petting tidak meyenanagkan.hal ini akan mewarnai sikapnya terhadap seks.
c.    Dorongan Seksual
     Dorongan seksual berkembang lebih awal pada laki-laki daripada perempuan cenderung tetap demikian,sedangkan pada perempuan timbul secara periodik dan turun naik selama siklus menstruasi.Variasi ini mempengaruhi minat dan kenikmatan akan seks yang kemudian akan mempengaruhi penyesuaian seksual.
d.   Pengalaman Seks Marital Awal.
    Kepercayaan bahwa hubungan seksual menimbulkan keadaan ekstasi yang tidak sejajar dengan pengalaman lain.Hal ini menyebabakan banyak orang dewasa muda merasa begitu pahit dan susah sehingga penyesuaian seksual sulit atau tidak mungkin dilakukan.
e.    Sikap Terhadap Penggunaan Alat Kontrasepsi
    Konflik dan ketegangan akan lebih sedikit terjadi jika suami atau isteri setuju menggunakan alat pencegah kehamilan,dibandingkan jika antara keduanya mempunyai sikap yang berbeda tentang alat kontrasepsi..
f.     Efek Vasektomi.
Apabila seseorang menjalani operasi vasektomi maka akan hilang ketakutannya akan kehamilan yang tidak diinginkan.Vasektomi mempunyai efek yang positif bagi perempuan tentang penyesuaian seksual,tetapi membuat laki-laki mempertanyakan kelelakiannya
 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri dengan Pihak Keluarga Pasangan.
a.    Keinginan untuk mandiri
    Orang yang menikah muda cenderung menolak berbagai saran dan petunjuk dari orang tua mereka,walaupun mereka menerima bantuan keuangan, dan khususnya mereka menolak campur tangan dari keluarga pasangannya
b.    Keluargaisme
Penyesuaian dalam perkawinan akan lebih pelik apabila salah satu pasangan tersebut menggunakan waktu lebih banyak untuk keluarga dari pada yang mereka sendiri inginkan.
E.  Gangguan Psikologi Pada Masa Perkawinan
Gangguan psikologi pada masa perkawinan juga berawal dari penyesuaian.
penyesuaian yang dimaksudkan yaitu:
1.      Pola baru dalam tingkah laku seksual
a.       Term Marriage
Term marriage atau perkawinan periodik yaitu dengan merencanakan suatu kontrak tahap pertama selama 3-5 tahun sedang tahap kedua ditempuh dalam jangka 10 tahun.perpanjangan kontrak bisa dilakukan untuk mencapai tahap ketiga yang memberikan hak kepada kedua partner untuk saling memiliki secara permanen.
b.      Trial Marriage
Trial marriage atau kawin percobaan dengan ide melandaskan argumentasinya pada pertimbangan sebagai berikut :jangan hendaknaya dua orang saling melibatkan diri dalam satu relasi sangat intim dan kompleks dalam bentuk ikatan perkawinan itu tidak mencobanya terlebih dahulu,selama satu periode tertentu umpamanya saja selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Jika dalam periode yang ditentukan kedua belah pihak saling bersesuian,barulah dilaksanakan ikatan perkawinan yang permanen.
c.       Companionate Marriage
Companionate marriage merupakan pola perkawinan ini menganjurkan dilaksanakan perkawinan tanpa anak,dengan melegalisir keluarga berencana atau pengendalian kelahiran juga melegalisir perceraian atas dasar persetujuan bersama.
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian terhadap pasangan.
a.       Konsep pasangan yang ideal.
Dalam memilih pasangan,baik pria dan wanita sampai sejauh tertentu dibimbing oleh konsep pasangan ideal yang dibentuk selama masa dewasa.semakin orang terlatih menyesuaikan diri terhadap realitas semakin sulit penyesuaian dilakukan terhadap pasangan.
b.       Pemenuhan Kebutuhan.
Apabila penyesuaian yang baik dilakukan ,pasangan harus memmenuhi kebutuhannya yang berasal dari pengalaman awal.Apabila orang dewasa perlu pengenalan,pertimbangan prestasi dan status sosial agar bahagia,pasangan harus membantu pasangan lainnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
c.       Kesamaan Latar Belakang.
Semakin sama latar belakang suami dan isteri semakin mudah untuk saling menyesuaikan diri.Bagaimanapun juga apabila latar belakang mereka sama setiap orang dewasa mencari pandangan unik tentang kehidupan.Semakin berbeda pandangan hidup ini, makin sulit penyesuaian diri dilakukan.
d.      Minat dan Kepentingan Bersama
Kepentingan yang saling bersamaan tentang suatu hal yang dapat dilakukan pasangan cenderung membawa penyesuaian yang baik
e.        Keserupaan Nilai
Pasangan yang menyesuaikan diri dengan baik mempunyai nilai yang lebih serupa daripada mereka yang penyesuaian dirinya buruk.Barangkali latar belakang yang sama menghasilkan nilai yang sama pula.
f.        Konsep Peran.
Setiap lawan pasangan mempunyai konsep yang pasti mengenai bagaimana seharusnya peranan seorang suami dan isteri , atau setiap orang mengharapkan pasangannya memainkan perannya.Jika harapan terhadap peran tidak terpenuhi, akan mengakibatkan konflik dan peyesuian yang buruk.
g.      Perubahan Dalam Pola Hidup.
Penyesuaian terhadap pasangan berarti mengorganisasikan pola kehidupan, merubah persahabatan dan kegiatan-kegiatan sosial serta merubah persyaratan pekerjaan,terutama bagi seorang isteri. penyesuaian-penyesuaian ini seringkali diikuti oleh konflik emosional.
F.   Kesulitan Dalam Penyesuaian Perkawinan
a.    Persiapan yang terbatas untuk perkawinan
Walaupun dalam kenyataan sekarang,penyesuaian seksual lebih mudah ketimbang pada masa lalu,karena banyak informasi tentang seks yang tersedia baik di rumah,di sekolah,di universitas dan di perguruan tinggi serta tempat-tempat yang lain.kebnayakan pasangan suami isteri hanya menerima sedikit persiapan di bidang keterampilan domestik,mengasuh anak,dan manajemen umum.
b.    Peran dalam perkawinan.
     Kecenderungan terhadap perubahan peran dalam perkawinan bagi pria dan wanita, dan konsep yang berbeda tentang peran ini yang dianut kelas osial dan sekelompok religius yang berbeda membuat penyesuaian dalam perkawinan semakin sulit sekarang daripada di masa lalu ketika peran masih begitu ketat dianut.
c.    Kawin Muda
     Perkawinan dan kedudukan sebagai orang muda menyelesaikan pendidikan mereka dan secara ekonomis independent membuat mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mempunyai pengalaman yang dipunyai oleh teman-teman yang tidak kawin atau orang – orang yang telah mandiri sebelum kawin.Hal ini mengakibatkan sikap iri hati dan menjadi halangan bagi penyesuaian perkawinan.
d.   Konsep yang tidak realistis tentang perkawinan
    Orang dewasa yang bekerja di sekolah dan perguruan tinggi, dengan sedikit atau tanpa pengalaman kerja,cenderung mempunyai konsep yang tidak realistis tentang makna perkawinan berkenan dengan pekerjaan,deprivasi,pembelanjaan uang atau perubahan dalam pola hidup.pendekatan yang tidak realistis ini menuju ke arah kesulitan penyesuaian yang serius yang sering diakhiri dengan perceraian.
e.    Perkawinan Campur
     Penyesuaian terhadap kedudukan sebagai orang tua dan dengan para saudara dari pihak isteri dan sebaliknya jauh lebih sulit dalam perkawinan antar agama daripada bika kedua berasal dari latar belakang budaya yang sama.
f.     Pacaran yang dipersingkat
    Periode atau masa pacaran lebih singkat sekarang ketimbang masa dulu,dan karena itu pasangan hanya punya sedikit waktu untuk memecahkan banyak masalah tentang penyesuaian sebelum mereka melangsungkan perkawinan.
g.    Konsep Perkawinan yang Romantis
    Banyak orang dewasa yang mempunyai,konsep perkawinan yang romantis yang berkembang pada masa remaja.Harapan yang berlebihan tentang tujuan dan hasil perkawinan sering membawa kekecewaan yang menambah kesulitan penyesuaian terhadap tugas dan tanggung jawab perkawinan.
h.    Kurangnya identitas
    Apabila seseorang merasa bahwa keluarga,teman dan rekannya memperlakukannya sebagai wanita merasa bahwa kelompok sosial menganggap dirinya hanya sebagai “ibu rumah tangga”, walaupun dia seorang wanita karir yang berhasil, ia bisa saja kehilangan identitas diri sebagai individu yang sangat dijunjung dan dinilai tinggi sebelum perkawinan.

G.  Cara Mengatasi Gangguan Psikologi Perkawinan
1.    Dengan cara melakukan Konseling (perkawinan)
konseling perkawinan dapat digunakan sebagai suatu pendekatan pemecahan masalah.
a.    Tujuan Konseling Perkawinan
Konseling perkawinan dilaksanakan tidak bermaksud untuk mempertahankan suatu keluarga.Konselor berpandangan bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk memutuskan cerai atau tidak sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi pasangan.Konseling perkawinan dimaksudkakan membantu klien untuk mengaktualkan diri yang menjadi perhatian pribadi.
2.    Tipe-tipe Konseling Perkawinan, yaitu:
a.     Concurent marital counseling
Konseling dilakukan secara terpisah.metode ini digunakan bila salah seorang partner memiliki masalah psikis tertentu untuk dipecahkan tersendiri selain juga mengatasi masalah yang berhubungan dengan pasangannya.
b.    Collaborative marital counseling
Setiap partner secara individual menjumpai konselor yang berbeda,
c.     Conjoint marital conseling
Suami isteri datang bersama-sama ke seorang atau beberapa orang konselor.
d.    Couples group counseling
Beberapa pasangan secara bersama-sama datang ke seseorang atau beberapa prang konselor.
3.    Peran Konselor
a.    Menciptakan hubungan baik
b.    Memberi kesempatan klien untuk melakukan ventilasi,yaitu membuka perasaannya secara leluasa dihadapan pasangannya.
c.    Memberi dorongan dan penerimaan terhadap klien
d.   Melakukan diagnosis/penemuan masalah
e.    Membantu klien mencari kemungkinan alternatif menentukan tindakan

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan yang terjadi secara berulang setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang pertama atau menarche paling sering terjadi pada usia 11 tahun, tetapi bisa juga terjadi pada usia 8 tahun atau 16 tahun tergantung faktor-faktor yang mempengarui kedewasaan atau perkembangan hormon pada gadis itu sendiri.
Dari gejala itu pun dapat diatasi dengan perbaikan pandangan hidup kita dan selalu berfikir positif, atau bisa dengan terapi trapiautik  dari tenaga kesehatan.
Perkawinan adalah suatu penyatuan jiwa dan raga dua manusia berlawanan jenis dalam suatu ikatan yang suci dan mulia di bawah lindungan hukum dan Tuhan Yang Maha Esa.
Gangguan psikologisnya yaitu:
1.      Pola baru dalam tingkah laku seksual:
a.       Term Marriage
b.      Trial Marriage
c.       Companionate Marriage
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian terhadap pasangan.
a.       Konsep pasangan yang ideal.
b.      Pemenuhan Kebutuhan.
c.       Kesamaan Latar Belakang.
d.      Minat dan Kepentingan Bersama
e.       Keserupaan Nilai
f.       Konsep Peran.
g.      Perubahan Dalam Pola Hidup 


B.  Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca agar dapat memberikan saran dan kritik kepada penulis, demi perbaikan makalah selanjutnya dan semoga pembaca dapat menambah wawasan pembaca mengenai gangguan psikologis pada menstruasi dan dapat mengatasinya serta dapat mengetahui gangguan psikologi pada masa perkawinan.

























DAFTAR PUSTAKA

1.      Sumiarni, Endang. 2004, Tentang Psikologis Dalam Perkawinan (Kesetaraan Jender Melalui Perjanjian Kawin). Yogyakarta: Wonderful Publishing Company.
2.      Suryani, Eko. 2008. Tentang Psikologi Ibu dan Anak. Penerbit: Fitmaraya








Tidak ada komentar:

Posting Komentar