Iklan

Minggu, 30 April 2017

POST MENOPAUSE

BAB I

PENDAHULUAN

     A.    Latar Belakang

     Setelah lahir kehidupan wanita dapat dibagi dalam beberapa masa yaitu bayi, masa kanak-kanak, masa pubertas, masa reproduksi, masa klimakterium dan masa senium. Masing-masing masa itu mempunyai kekhususan, karena itu gangguan pada setiap masa tersebut juga dapat dikatakan khas karena merupakan penyimpangan dari faal yang khas pula dari masa yang bersangkutan.

     Siklus kehidupan seorang wanita normal akan melewati masa klimakterium yaitu masa peralihan dari fase reproduksi menuju fase tua (senium) yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun endokronologi dari ovarium.

    Dalam perjalanan hidupnya seoarng wanita yang mencapai umur sekitar 45 tahun, mengalami penuaan indung telur, sehingga tidak sanggup memenuhi hormon estrogen. Sistem hormonal seluruh tubuh mengalami kemunduran dalam mengeluarkan hormonnya. Kemunduran pada kelenjar tiroid dengan hormon tiroksin untuk metabolisme umum dan kemunduran kelenjar paratiroid yang mengatur metabolisme kalsium. Terdapat peningkatan hormon FSH dan LH. Perubahan pengeluaran hormon menyebabkan berbagai perubahan pada fisik dan psikis.

    Menopause merupakan berhentinya secara fisiologis siklus menstruasi yang berkaitan dengan tingkat lanjut usia perempuan. Seorang wanita yang mengalami menopause alamiah sama sekali tidak dapat mengetahui apakah saat menstruasi tertentu benar-benar merupakan menstruasinya yang terakhir sampai satu tahun berlalu. Menopause kadang-kadang disebut perubahan kehidupan.

     B.     Rumusan Masalah
Bagaimana tahapan-tahapan mencapai masa Post Menopause

     C.     Tujuan
1.      Mengetahui apa itu masa post menopause.
2.      Mengetahui tahapan wanita mencapai masa post menopause.
3.      Mengetahui karakteristik reproduksi wanita post menopause.
4.      Mengetahui cara pencegahan untuk mengurangi pendarahan pada masa post menopause.


BAB II

PEMBAHASAN

     A.      Pengertian Post Menopause

      Post menopause adalah perdarahan yang terjadi setelah menopause, dalam waktu 3 sampai 5 tahun setelah mentruasi terakhir. Oleh karena itu masa Post Menopause berbeda-beda pada masing-masing individu.

     Ada dua tahap terhadap terjadinya menopause. Perimenopause, biasanya dimulai beberapa tahun sebelum menopause, ketika ovarium memproduksi estrogen secara bertahap mulai mengurang. Perimenopause berlangsung sampai menopause, yaitu titik ketika ovarium berhenti melepaskan telur. Dalam satu sampai dua tahun saat perimenopause, penurunan estrogen akan semakin cepat.

     Menopause adalah titik ketika sudah setahun seorang wanita tidak memiliki periode menstruasi. Pada tahap ini, ovarium telah berhenti melepaskan telur dan berhenti menghasilkan sebagian besar estrogen mereka.

  Postmenopause, ini adalah tahun-tahun setelah menopause. Selama tahap ini, terdapat risiko kesehatan yang berkaitan dengan hilangnya estrogen seiring dengan meningkatnya usia perempuan.

      B.      Gejala dan Penyebab Post Menopause

    Gejala Post Menopause, Ovarium Post menopause berukuran kecil dan tidak berisi folikel. Penampakan ovarium pasca menopause bersamaan dengan observasi terhadap tindakan ooforektomi yang berhubungan dengan gejala-gejala menopause, membuktikan teori yang sesungguhnya bahwa deplesi folikel bertanggung jawab atas terjadinya menopause.

       Perdarahan postmenopause dapat berasal dari berbagai bagian dari sistem reproduksi. Pendarahan dari sistem reproduksi, ini dapat terjadi oleh beberapa sebab  :
1.      Kanker endometrium
2.      Endometrium polip
3.      Kanker serviks
4.      Lesi serviks
5.      Tumor rahim
6.      Kanker ovarium, dll
Pendarahan dari vagina dapat terjadi karena ketika berhenti sekresi estrogen, vagina mengering dan dapat mengurangi (atrofi). Ini adalah penyebab paling umum dari perdarahan dari saluran reproduksi yang lebih rendah.

      Banyak wanita mengalami perdarahan postmenopause. Namun, perdarahan postmenopause tidak normal. Karena bisa jadi merupakan gejala kondisi medis serius. Sekitar 5-10% dari perdarahan postmenopause disebabkan kanker endometrium atau prekursor-nya. hyperplasia uterus, pertumbuhan abnormal sel-sel rahim, dapat menjadi pelopor untuk kanker.

      USG probe vagina semakin banyak digunakan lebih dari biopsi endometrium untuk menilai wanita dengan perdarahan postmenopause. USG vagina mengukur ketebalan endometrium. Ketika garis endometrium kurang dari 0,2 di (5 mm) tebal, kemungkinan kanker kurang dari 1%.



      C.      Pencegahan

   perdarahan postmenopause bukan merupakan gangguan  yang dapat dicegah. Namun, mempertahankan berat badan yang sehat akan mengurangi kemungkinan itu terjadi. Perawatan untuk pendarahan pasca-menopause akan dibuat berdasarkan penyebabnya.
Endometrium yang menipis dapat diobati dengan obat-obatan yang memperbanyak hormon estrogen dalam tubuh. Obat dapat berbentuk gel atau krim oles (digunakan pada vagina pasien), tablet, pil, atau patch (semacam koyo khusus).





BAB III

PENUTUP


       A.    KESIMPULAN

1.      Post menopause adalah perdarahan yang terjadi setelah menopause, dalam waktu 3 sampai 5 tahun setelah mentruasi terakhir.
2.      Postmenopause, adalah tahun-tahun setelah menopause.
3.      Ovarium disaat Post menopause berukuran kecil dan tidak berisi folikel.
4.      Pendarahan dari vagina dapat terjadi karena ketika berhenti sekresi estrogen, vagina mengering dan dapat mengurangi (atrofi).

      B.     SARAN
        mempertahankan berat badan yang sehat akan mengurangi kemungkinan pendarahan Post
    Menopause. diobati dengan obat-obatan yang memperbanyak hormon estrogen dalam tubuh.





DAFTAR PUSTAKA






http://infosehatbugar.com/762/menopause-adalah-mengenal-arti-dan-penyebab-menopause.html

Sabtu, 29 April 2017

ANATOMI DAN FISIOLOGI PAYUDARA SERTA PROSES LAKTASI




KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan karunia Nya makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Banyak kesulitan dan hambatan yang  kami hadapi dalam membuat tugas kelompok ini, tapi dengan semangat dan kegigihan serta arahan, bimbingan  dari berbagai pihak sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kelompok ini dengan baik. Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh anggota yang telah meluangkan waktu dan mencurahkan segala pemikiran dalam makalah ini. Makalah kelompok kami masih belum cukup sempurna, oleh karena itu kami menerima saran dan kritik guna kesempurnaan tugas ini dan kedepanya. Dan kami berharap makalah ini bermanfaat terutama bagi penulis dan pembaca pada umumnya.


Daftar Isi


KATA PENGANTAR................................................................................................ ii
Daftar  Isi................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 4
Latar Belakang.......................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................... 5
A.    Anatomi dan Fisiologi Payudara................................................................. 5
a.       Anatomi payudara............................................................................... 5
b.      Fisiologi Payudara..............................................................................  7
B.     Proses Laktasi.......................................................................................... 7
BAB III PENUTUP.......................................................................................  9
A.    Penutup ................................................................................................... 9
B.     Saran ...................................................................................................... 9
C.     Daftar  Pustaka ........................................................................................ 10





BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

        Setiap manusia pada umumnya mempunyai payudara, tetapi antara laki-laki dan perempuan berbeda dalam fungsinya. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup keturunannya, maka organ ini menjadi sumber utama dari kehidupan, karena air susu Ibu (ASI) adalah makanan bayi yang paling penting pada bulan-bulan pertama kehidupan.
        Menjelang akhir kehamilan, kelenjar mamae Ibu berkembang penuh untuk menyusui, tetapi hanya beberapa mililiter cairan di sekresi setiap hari sampai setelah bayi di lahirkan cairan ini di namakan kolostrum.. Penting untuk diketahui oleh ibu-ibu supaya menyususi harus dilaksanakan berdasarkan permintaan/kebutuhan bayinya dan dilaksanakan secara teratur sepanjang hari baik pagi maupun malam hari.



BAB II

PEMBAHASAN

      A.    Anatomi dan Fisiologi Payudara

a.       Anatomi payudara
Payudara adalah pelengkap organ reproduksi wanita. Payudara pada masa laktasi akan mengeluarkan air susu. Payudara terletak di bawah kulit di atas otot dada, terletak pada fasia superfisialis di antara sternum dan aksila. Melebar dari iga kedua sampai iga ketujuh. Pada umumnya manusia mempunyai payudara yang beratnya ±200gr, saat hamil  ±600gr, saat menyusui  ±800gr. Namun berat dan ukuran disebabkan oleh beberapa faktor, seperti genetik atau berat badan yang berlebih dan faktor lainya.
Payudara memiliki 3 bagian utama yaitu :
1.      Korpus mammae (badan payudara)
2.      Areola (bagian hitam di sekitar papilla)
3.      Papilla (puting payudara)

1.1  gambar anatomi dan fisiologi payudara
2.      Korpus payudara
Korpus terdiri dari jaringan kelenjar, ductus tubulus alveolus, jaringan ikat, lemak dan pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf.
Lobulus yaitu kumpulan alveolus. Korpus terdiri dari  15-25 lobus. Tiap lobus terdiri dari 20-40 lobulus. Dan tiap lobulus terdiri dari 10-100 alveolus. Alveolus yaitu unit terkecil yang memprodksi ASI. Asi disalurkan dari alveolus ke saluran kecil(ductulus), kemudian beberapa ductulus akan bergabung dan membentuk saluran yang lebih besar (ductus lactiferus), dan melebar ke sinus lactiferus, akhirnya menuju ke puting susu.

3.      Areola

1.2 gambar areola
      Areola merupakan area gelap kemerahan di sekitar puting payudara. Terdapat bulatan-bulatan kecil pada areola payudara yaitu kelenjar sebaceous atau yang dikenal dengan kelenjar Montgomery, yang berfungsi sebagai pelumas agar menjaga kelembapan area di sekitar puting saat diisap oleh bayi atau saat memompa payudara.

      4.      Papila
      Papila adalah bagian ujung pada payudara yang menonjol, yang berfungsi sebagai tempat pengeluaran asi. Puting susu bisa mengalami ereksi, yang disebabkan oleh respons taktil terhadap suhu dingin, baik pada pria ataupun wanita. Ereksi puting juga bisa terjadi saat timbulnya gairah seksual pada wanita dan pria, atau selama menyusui. Kedua hal tersebut disebabkan oleh pelepasan oksitosin.
Papila payudara pada tiap manusia berbeda bentuknya, berikut beberapa bentuk papila payudara.


1.3  bentuk papila payudara
b. Fisiologi Payudara

Fisiologi Payudara ini melibatkan fisiologi laktasi dimana payudara menjalankan perannya sebagai penghasil air susu. Ada 2 faktor yang terlibat dalam fisiologi laktasi, yaitu hormone prolaktin dan hormone oksitosin.
Hormon prolaktin dihasilkan oleh Adenohipofisis. Pada wanita bersalin, kelenjar susunya yang dirangsang oleh hormon prolaktin sehingga wanita tersebut mampu menghasilkan air susu untuk bayinya.
Hormon Oksitosin, berfungsi mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Selain itu, pasca melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down reflek.


     B.     Proses Laktasi

      Laktasi adalah produksi, pengeluaran asi. Keduanya harus sama baiknya. Di  dalam bagan payudara terdapat bangun yang disebut alveolus, yang merupakan tempat dimana air susu diproduksi. Dari alveolus ini ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (duktulus), dimana beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus). Di bawah areola, saluran yang besar ini mengalami pelebaran yang disebut sinus. Akhirnya semua saluran yang besar ini mengalami pelebaran yang disebut sinus. Akhirnya semua saluran yang besar ini memusat ke dalam putting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran, terdapat otot yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.

      Pengeluaran ASI dipengaruhi hormon-hormon, yaitu Hormon Prolaktin. Ketika bayi menyusu, payudara mengirimkan rangsangan ke otak. Otak kemudian bereaksi mengeluarkan hormon Prolaktin yang masuk ke dalam aliran darah menuju kembali ke payudara. Hormon Prolaktin merangsang sel-sel pembuat susu untuk bekerja, memproduksi susu. Sel-sel  pembuat susu sesungguhnya tidak langsung bekerja ketika bayi menyusu. Sebagian besar hormon Prolaktin berada dalam darah selama kurang lebih 30 menit, setelah proses menyusui. Jadi setelah proses menyusu selesai, barulah sebagian besar hormon Prolaktin sampai di payudara dan merangsang sel-sel pembuat susu untuk bekerja. Jadi, hormon Prolaktin bekerja untuk produksi susu berikutnya.




1.4  gambar isapan bayi menghasilkan rangsangan pada papila payudara.

        Dan dipengaruhi Hormon Oksitosin. Setelah menerima rangsangan dari payudara, otak juga mengeluarkan hormon Oksitosin selain hormon Prolaktin. Hormon Oksitosin diproduksi lebih cepat daripada Prolaktin. Hormon ini juga masuk ke dalam aliran darah menuju payudara. Di payudara, hormon Oksitosin ini merangsang sel-sel otot untuk berkontraksi. Kontraksi ini menyebabkan ASI hasil produksi sel-sel pembuat susu terdorong mengalir melalui pembuluh menuju muara saluran ASI. Kadang-kadang, bahkan ASI mengalir hingga keluar payudara ketika bayi sedang tidak menyusu. Mengalirnya ASI ini disebut refleks pelepasan ASI.
       Produksi Hormon Oksitosin bukan hanya dipengaruhi oleh rangsangan dari payudara. Hormon oksitosin juga dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan ibu. Jadi ketika ibu mendengar suara bayi, meskipun mungkin bukan bayinya, ASI dapat menetes keluar. Suara tangis bayi, sentuhan bayi, atau ketika ibu berpikir akan menyusui bayinya, atau bahkan ketika ibu memikirkan betapa sayangnya kepada sang bayi, ASI dapat menetes keluar.



BAB III

PENUTUP


A.    kesimpulan
     Payudara wanita merupakan bagian yang penting karena fungsi utamanya yaitu memproduksi nutrisi bagi bayi (ASI). Secara anatomi payudara terdiri atas 3 bagian, corpus payudara, areola dan papila. Sedangkan secara fisiologis dapat diketahui bahwa payudara memproduksi ASI yang dipengaruhi hormon prolaktin dan oksitosin. Dan Proses Laktasi diketahui fungsinya untuk produksi dan pengeluaran asi. dimana bayi nantinya akan mendapat asi yang merupakan sumber nutrisi terpenting.
B.     Saran
      Diharapkan mahasiswa mampu memahami anatomi dan fisiologi payudara, kelenjar dan hormon yang mempengaruhi, serta proses laktasinya.



Daftar Pustaka


Irianto, Koes. 2013. Anatomi dan Fisiologi Untuk Mahasiswa. Bandung: Alfabeta


MAKALAH STANDAR PRAKTIK KEBIDANAN



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat hidayah dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Etikolegal yang berjudul Standar Praktik Kebidanan.
Penyusun berharap tulisan ini bisa memberikan wawasan luas untuk memahami tentang Etikolegal dalam Standar Praktik Kebidanan. Selain itu penyusun berharap tulisan ini dapat menjadi dasar pengantar dan pemenuhan materi perkuliahan Etikolegal Dalam Standar Praktik Kebidanan
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat sangat membangun, penulis mengharapkan demi kesempurnaan makalah ini dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu penyusunan tulisan ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua.


Daftar Isi
  Kata Pengantar............................................................................................................ 
  Daftar Isi.................................................................................................................... 
  BAB  I  PENDAHULUAN.......................................................................................... 
       A.    Latar Belakang....................................................................................................... 
       B.   Rumusan Masalah.................................................................................................. 
       C.   Tujuan Penulisan.................................................................................................... 
       D.    Manfaat Penulisan..................................................................................................
  BAB II ISI.................................................................................................................
  Standar Praktik Kebidanan...........................................................................................
          A.    Standar 1 Metode Asuhan....................................................................................
          B.     Standar 2 Pengkajian...........................................................................................
          C.     Standar 3 Diagnosis Kebidanan............................................................................
          D.    Standar 4 Rencana Asuhan...................................................................................
          E.     Standar 5 Tindakan.............................................................................................
          F.      Standar 6 Partisipasi Klien..................................................................................
          G.    Standar 7 Pengawasan.........................................................................................   
          H.    Standar 8 Evaluasi..............................................................................................
           I      Standar 9 Dokumentasi........................................................................................
  BAB III  PENUTUP...................................................................................................
          A.    Kesimpulan........................................................................................................
          B.    Saran................................................................................................................. 
  Daftar Pustaka.............................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
     A.    Latar Belakang
Dalam profesi kebidanan, standar praktik kebidanan merupakan suatu acuan atau pedoman bagi seorang bidan dalam melakukan sebuah tindakan. Namun, masih saja ada bidan yang tidak memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar praktik kebidanan yang telah ditetapkan. Hal ini menimbulkan penurunan kualitas suatu pelayanan yang diberikan oleh bidan.
            Standar adalah ukuran atau parameter yang digunakan sebagai dasar untuk menilai tingkat kualitas yang telah disepakati dan mampu dicapai dengan ukuran yang telah ditetapkan. Penentuan standar profesi selalu berkaitan erat dengan situasi dan kondisi dari tempat standar profesi itu berlaku. Dalam melakukan tugasnya, bidan wajib memenuhi standar profesi sesuai UU No. 23/92 tentang kesehatan, bahwa tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya  berkewajiban untuk memenuhi standar profesi dn menghormati hak  pasien.
            Pasal 53 UU No. 23/92 menetapkan bahwa standar profesi adalah pedoman yang digunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik. Tenaga Kesehatan yang berhadapan dengan pasien seperti dokter, bidan dan perawat dalam melaksanakan tugasnya harus menghormati hak pasien.
            Standar  praktik kebidanan dibuat dan disusun oleh organisasi profesi bidan (IBI) berdasarkan kompetensi  inti bidan, dimana kompetensi ini lahir sebagai bukti bahwa bidan telah menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang harus dimilki bidan sebagai hasil belajar dalam pendidikanya.

     B.     Rumusan Masalah
Apa saja standar praktik dalam kebidanan

     C.     Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa saja standar praktik dalam kebidanan

     D.    Manfaat Penulisan
Agar dapat mengetahui standar praktik dalam kebidanan




BAB II

ISI
Standar Praktik Kebidanan
Standar praktek dalam kebidanan dikelompokkan menjadi 9, meliputi :
      1.      Standar pertama          : Metode Asuhan
      2.      Standar kedua             : Pengkajian
      3.      Standar ketiga             : Diagnois Kebidanan
      4.      Standar keempat         : Rencana Asuhan
      5.      Standar kelima            : Tindakan
      6.      Standar keenam          : Patisipasi Klien
      7.      Standar ketujuh           : Pengawasan
      8.      Standar kedelapan      : Evaluasi
      9.      Standar kesembilan     : Dokumenstasi

     A.    Standar  1  Metode Asuhan
Asuhan kebidanan dilaksanakan dengan metode manajemen kebidanan dengan langkah pengumpulan data dan analisis data, penentuan diagnosa perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi.
Definisi Operasional:
a)      Ada format manajemen kebidanan yang sudah terdaftar pada catatan medis
b)      Format manajemen kebidanan terdiri dari :
1.      Format pengumpulan data
2.      Rencana format pengawasan resume
3.      Tindak lanjut catatan kegiatan
4.      Evaluasi

     B.     Standar  2  Pengkajian
Pengumpulan data tentang status kesehatan klien dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, data yang diperoleh dicatat dan dianalisis.
Definisi Operasional :
a)      Format pengumpulan data
b)      Pengumpulan data dilakukan secara sistimatis, terfokus, meliputi data:
1.       Demografi identitas klien
2.       Riwayat penyakit terdahulu
3.       Riwayat kesehatan reproduksi
4.       Keadaan kesehatan saat ini termasuk kesehatan reproduksi
5.       Analisis data


c)      Data dikumpulkan dari:
1.      Klien/pasien, keluarga dan sumber lain
2.      Tenaga kesehatan
3.      Individu dalam lingkungan terdekat
d)     Data diperoleh dengan cara:
1.      Wawancara
2.      Observasi
3.      Pemeriksaan fisik
4.      Pemeriksaan penunjang

     C.     Standar  3  Diagnosis Kebidanan
Diagnosa kebidanan dirumuskan berdasarkan analisis data yang telah dikumpulan.
Definisi Operasional :
a)      Diagnosa kebidanan dibuat sesuai dengan kesenjangan yang dihadapi oleh klien atau suatu keadaan psikologis yang ada pada tindakan kebidanan sesuai dengan wewenang bidan dan kebutuhan klien.
b)      Diagnosa kebidanan dirumuskan dengan padat, jelas sistimatis mengarah pada asuhan kebidanan yang diperlukan oleh klien.

     D.    Standar  4  Rencana Asuhan
Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosa kebidanan.
Definisi Operasional :
a)      Ada format rencana asuhan kebidanan
b)      Format rencana asuhan kebidanan terdiri dari diagnosa, rencana tindakan dan evaluasi.

      E.     Standar  5  Tindakan
Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana dan perkembangan keadaan klien tindakan kebidanan dilanjutkan dengan evaluasi keadaan klien.
Definisi Operasional :
a)      Ada format tindakan kebidanan dan evaluasi.
b)      Format tindakan kebidanan terdiri dari tindakan dan evaluasi.
c)      Tindakan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan perkembangan klien.
d)     Tindakan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan prosedur tetap dan wewenang bidan atau tugas kolaborasi.
e)      Tindakan kebidanan dilaksanakan dengan menerapkan kode etik kebidanan dan etika kebidanan serta memberikan hak klien aman dan nyaman.
f)       Seluruh tindakan kebidanan dicatat pada format yang telah tersedia.


      F.      Standar  6  Partisipasi Klien
Tindakan kebidanan dilaksanakan bersama-sama partisipasi klien dan keluarga dalam rangka peningkatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan.
Definisi Operasional :
a)      Klien/keluarga mendapatkan informasi tentang:
1.      Status kesehatan saat ini
2.      Rencana tindakan yang akan dilaksanakan
3.      Peranan klien/keluarga dalam tindakan kebidanan
4.      Peranan petugas kesehatandalam tindakan kebidanan
5.      Sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan
b)      Klien dan keluarga bersama-sama dengan petugas melaksanakan tindak kegiatan.

     G.    Standar  7  Pengawasan
Monitor atau pengawasan terhadap klien dilaksanakan secara terus menerus dan tujuan untuk mengetahui perkembangan klien.
Difinisi Operasional :
a)      Adanya format pengawasan klien.
b)      Pengawasan dilaksanakan secara terus menerus sistimatis untuk mengetahui keadaan perkembangan klien.
c)      Pengawasan yang dilaksanakan selalu dicatat pada catatan yang telah disediakan

     H.    Standar  8  Evaluasi
Evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan terus menerus seiring dengan tindak kebidanan yang dilaksanakan dan evaluasi dari rencana yang telah dirumuskan.
Difinisi Operasional :
a)      Evaluasi dilaksanakan setelah dilaksanakannya tindakan kebidanan, menyesuaikan dengan standar ukuran yang telah ditetapkan.
b)      Evaluasi dilaksanakan untuk mengukur rencana yang telah dirumuskan.
c)      Hasil evaluasi dicatat pada format yang telah disediakan.

      I.       Standar  9  Dokumentasi
Asuhan kebidanan didokumentasikan sesuai dengan standar dokumentasi asuh kebidanan yang diberikan.
Difinisi Operasional:
a)      Dokumentasi dilaksanakan untuk disetiap langkah manajemen kebidanan.
b)      Dokumentasi dilaksanakan secara jujur sistimatis jelas dan ada yang bertanggung jawab.
c)      Dokumentasi merupakan bukti legal dari pelaksanaan asuhan kebidanan.



BAB III
PENUTUP
      A.    Kesimpulan
Standar adalah ukuran atau parameter yang digunakan sebagai dasar untuk menilai tingkat kualitas yang telah disepakati dan mampu dicapai dengan ukuran yang telah ditetapkan.
Dalam melakukan tugasnya, bidan wajib memenuhi standar profesi sesuai UU No. 23/92 tentang kesehatan, bahwa tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya  berkewajiban untuk memenuhi standar profesi dn menghormati hak  pasien.
Standar praktek dalam kebidanan dikelompokkan menjadi 9, meliputi :
1.      Standar  pertama               : Metode Asuhan
2.      Standar  kedua                  : Pengkajian
3.      Standar  ketiga                  : Diagnosis Kebidanan
4.      Standar  keempat              : Rencana Asuhan
5.      Standar  kelima                 : Tindakan
6.      Standar  keenam               : Patisipasi Klien
7.      Standar  ketujuh                : Pengawasan
8.      Standar  kedelapan           : Evaluasi
9.      Standar  kesembilan          : Dokumenstasi

     B.     Saran
Dengan adanya  standar praktik kebidanan seorang bidan dalam melakukan pelayanan harus sesuai standar praktik peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan agar memberikan pelayanan yang berkualitas.




Daftar Pustaka



Purwoastuti, Endang dan Siwi walyani, Elisabeth. 2015. Etikolegal Dalam Praktik Kebidanan. Pustakabarupress, Yogyakarta.